Siang tadi selepas shalat Jumat, saya menyempatkan diri berbincang santai dengan seorang kawan. Obrolan yang awalnya sekadar menanyakan kabar, perlahan mengalir dalam menjadi sebuah diskusi hangat tentang satu kata yang paling sering dikejar oleh umat manusia: Rezeki.
Di era modern ini, kita dibombardir oleh berbagai kelas financial planner, rasio keuangan yang njelimet, hingga teori dana pensiun yang membuat dahi berkerut. Ilmu-ilmu finansial modern seperti akuntansi, perencanaan anggaran, dan investasi memang sangat penting. Namun ironisnya, kawan saya menyadari sebuah anomali: banyak orang yang hidupnya dulu baik-baik saja dan tenang, mendadak merasa sangat kekurangan dan miskin justru setelah mereka terlalu gandrung mempelajari teori-teori keuangan tersebut.
Mengapa bisa begitu? Karena dalam hitung-hitungan spreadsheet Excel, kita sering lupa memasukkan satu variabel fundamental yang tidak bisa dirumuskan oleh kalkulator mana pun: Keberkahan.
Mari kita bedah kembali konsep rezeki ini dengan kacamata muamalah yang lurus, agar kita tidak terjebak menjadi pengusaha yang kaya harta namun fakir jiwa.
1. Rezeki Itu Jaminan, Tugas Kita Adalah ‘Bergerak’
Hal pertama yang harus kita tancapkan kuat-kuat di dalam pikiran adalah: rezeki adalah jaminan mutlak dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia pasti akan datang dan menemukan alamat kita, tak peduli bagaimana jalan atau caranya.
Namun, jaminan ini bukan berarti lisensi untuk bermalas-malasan. Tugas kita sebagai manusia bukanlah duduk diam menunggu keajaiban turun dari langit, melainkan berusaha semaksimal mungkin (ikhtiar) dan bergerak. Burung pun harus keluar dari sarangnya di pagi hari untuk mendapatkan perut yang kenyang di sore hari. Pergerakan dan kerja keras kitalah yang menjadi ‘sebab’ turunnya jaminan tersebut.
2. Bahaya ‘Kalkulator Rusak’ Saat Menafkahi Keluarga
Di sinilah letak ujian terbesarnya. Sebanyak apa pun tumpukan harta yang kita miliki, jika batin kita luput dari rasa syukur, rezeki itu pasti akan selalu terasa kurang.
Salah satu pintu bocornya rasa syukur adalah ketika kita mulai terlalu perhitungan (pelit) dalam membelanjakan harta untuk keperluan keluarga. Ketika setiap rupiah yang keluar untuk istri atau anak dihitung dengan kening berkerut, sifat qana’ah (merasa cukup) perlahan akan mati. Perasaan “selalu kurang” ini pada akhirnya akan melahirkan kebakhilan. Padahal, dalam Islam, harta yang dinafkahkan untuk keluarga adalah sebaik-baiknya sedekah yang justru memancing rezeki yang lebih besar.
3. Teori Fisika Kuantum dan Hilangnya Barakah karena ‘Dihitung’
Ini adalah bagian paling menarik dari perbincangan kami tadi siang. Tahukah Anda anjuran (Sunnah) dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menutup tempat makanan dan minuman? (HR. Bukhari dan Muslim).
Menariknya, konsep menjaga keberkahan dari hal yang tidak terlihat ini sangat sejalan dengan Teori Pengamatan (Observer Effect) dalam ranah fisika kuantum modern. Dalam eksperimen fisika, sebuah materi terbukti akan bertindak atau merespons secara berbeda ketika sedang diamati secara langsung, dibandingkan saat ia tidak diamati.
Hal ini tecermin sempurna dalam kisah sahih Ibunda Aisyah Radhiyallahu ‘anha.
Diceritakan dalam Sahih Bukhari, setelah wafatnya Rasulullah SAW, Aisyah RA memiliki sedikit simpanan gandum di raknya. Beliau terus mengambil dan memakannya dari simpanan tersebut dalam waktu yang sangat lama. Beliau tidak pernah menghitung atau menakarnya secara presisi. Suatu hari, rasa penasaran manusiawinya muncul. Ia pun menakar gandum tersebut untuk mengetahui sisa kuantitas fisiknya. Anehnya, begitu ditakar dan dihitung, tak lama kemudian gandum itu pun habis.
Mengapa hal ini terjadi? Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa rezeki yang dibiarkan mengalir tanpa dihitung secara obsesif memiliki keberkahan yang tersembunyi. Ketika Aisyah RA menakar gandum tersebut semata-mata untuk melihat dan mengetahui sisa kuantitas fisiknya, di situlah keberkahan gaibnya (barakah) diangkat.
Abu Hurairah pernah mengalami kejadian yang serupa. Nabi SAW mendoakan sekantong kurma untuk Abu Hurairah dan berpesan, “Ambillah kurma-kurma ini dan masukkanlah ke dalam kantongmu ini. Kapan pun engkau ingin mengambil sesuatu darinya, masukkanlah tanganmu ke dalamnya lalu ambillah, dan janganlah engkau menumpahkannya (untuk dihitung atau dikeluarkan semuanya).” Abu Hurairah mengaku memakan kurma bahkan bersedekah dari kantong itu bertahun-tahun lamanya hingga zaman kekhalifahan Utsman bin Affan. (Tirmidzi 3839)
Nabi melarang Abu Hurairah menumpahkan kurma tersebut dari kantongnya untuk dilihat atau dihitung jumlah sisanya. Hal ini sejalan dengan konsep bahwa mengawasi dan menghitung-hitung rezeki secara berlebihan dapat menghilangkan rahasia barakah yang telah Allah SWT tetapkan.
Riwayat serupa juga terjadi pada beberapa sahabat lainnya sebagaimana diceritakan oleh Jabir (lihat Shahih Muslim 2281) dan Naufal bin Harits (lihat Al-Mustadrak 5075) bahwa Rasulullah bersabda: “Seandainya makanan itu tidak kalian timbang, niscaya kalian akan bisa memakannya selama hidup kalian”.
Rahasia keberkahan ini semakin dipertegas oleh Rasulullah SAW melalui pesan beliau kepada Asma binti Abu Bakar RA: “Janganlah engkau menyimpan harta tanpa menyedekahkannya dan janganlah engkau menghitung-hitung rezeki, nanti Allah akan menghitung-hitung (menahan) rezeki-Nya padamu.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Keberkahan sering kali bekerja di ruang yang tidak terlihat. Ketika kita terlalu sering mengecek saldo m-banking, menghitung setiap receh pengeluaran harian dengan penuh kekhawatiran dan rasa waswas, tanpa sadar kita sedang mengangkat ‘keberkahan’ dari harta tersebut.
4. Literasi Finansial vs. Keberkahan: Menjaga Keseimbangan
Jangan salah paham, mempelajari ilmu akuntansi, cashflow, dan perencanaan masa depan adalah bentuk kehati-hatian yang sangat dianjurkan agar bisnis kita tidak bangkrut karena manajemen yang serampangan.
Namun, jadikanlah ilmu finansial itu sebagai alat ukur evaluasi, bukan sebagai Tuhan penentu masa depan. Jika kita terlalu mendewakan teori angka, kita akan selalu didera rasa takut miskin. Terlalu perhitungan, cemas, atau terus-menerus mengawasi rezeki secara materialistis dapat mengangkat Barakah (keberkahan). Kekhawatiran ini akan menyetir kita menjadi pribadi yang bakhil, enggan bersedekah, takut berinvestasi pada hal-hal yang bermanfaat, dan akhirnya kehilangan esensi dari rezeki itu sendiri.
Kesimpulan
Bekerjalah sekeras mungkin dengan cerdas, kelola uang Anda dengan profesional, namun sisakan ruang kosong yang luas di hati Anda untuk tawakal. Jangan terlalu sering melongok isi ‘dompet’ Anda dengan perasaan cemas. Keluarkanlah hak keluarga dengan lapang dada, dan biarkan rumus keberkahan dari Sang Maha Pemberi Rezeki bekerja melampaui logika spreadsheet Anda.
FAQ
Q: Apakah berarti kita tidak boleh membuat catatan pembukuan bulanan?
A: Tentu saja boleh dan wajib, terutama untuk arus kas bisnis agar tidak berantakan. Yang dilarang adalah sikap mental “menghitung-hitung” (bakhil) yang disertai rasa cemas, was-was, dan enggan mengeluarkan hak keluarga atau sedekah karena takut saldo berkurang.
Q: Bagaimana cara melatih sifat Qana’ah di tengah era media sosial yang serba pamer?
A: Fokuslah pada tujuan bisnis dan akhirat Anda sendiri. Kurangi melihat pencapaian finansial orang lain (FOMO), dan perbanyak rasa syukur atas kesehatan, waktu luang, serta kecukupan keluarga yang sering kali nilainya jauh di atas uang tunai.
Q: Saya sudah berusaha maksimal tapi rezeki finansial saya masih terasa seret. Apa yang salah?
A: Coba evaluasi kembali jalur muamalah Anda. Pastikan tidak ada gharar atau riba di dalamnya. Selain itu, periksa kembali seberapa lapang dada Anda saat memberikan nafkah kepada keluarga. Sering kali, rezeki tertahan karena kita terlalu pelit kepada orang terdekat kita.




