Udah Coba Ini Itu Tetap Gagal, Coba Cara Ini Biar Gak Boncos Lagi

Udah Coba Ini Itu Tetap Gagal, Coba Cara Ini Biar Gak Boncos Lagi

Pernah dengar nama Mukidi? Bukan nama sebenarnya sih, tapi biar gampang cerita kita kasih nama itu aja. Kisahnya mungkin mirip sama kamu, atau teman kamu, atau siapa saja yang lagi berjuang cari penghasilan lewat bisnis.

Mukidi punya impian besar: ingin punya penghasilan tinggi dan hidup mapan. Semangatnya luar biasa, pikirannya terbuka, dan ia tidak takut mencoba banyak hal.

Makanya, ia pernah jadi agen asuransi, agen properti, ikutan MLM, jadi dropshipper, affiliate marketer, dan berbagai bisnis lainnya. Tapi sayangnya, hasilnya selalu sama: mentok dan gagal berkembang.

 

Kenapa Mukidi Selalu Mentok?

Masalah utamanya ternyata sederhana: Mukidi tidak paham marketing.

Setiap kali dapat produk atau peluang bisnis baru, yang ia lakukan hanyalah langsung promosi secara membabi buta. Misalnya:

  • Spam promosi di grup Facebook atau Telegram orang lain.
  • Kirim pesan pribadi ke teman-teman dengan penawaran jualan.
  • Posting hardselling terus-menerus tanpa membangun kepercayaan.

Hasilnya? Ya jelas zonk. Jangkauan terbatas, capek sendiri, malah sering ditolak mentah-mentah.

Mukidi lalu sadar: kalau pakai cara manual terus, hasilnya nggak akan maksimal. Akhirnya ia coba cara modern: iklan berbayar (Facebook Ads).

Sayangnya, karena tidak punya strategi yang matang, iklannya malah bikin dia boncos. Uang belasan juta melayang, tapi penjualan tidak sebanding dengan biaya iklan.

 

Pelajaran dari Mukidi: Jangan Jualan Membabi Buta

Kalau kamu pernah mengalami hal yang sama, tenang… kamu tidak sendirian. Banyak pebisnis pemula yang terjebak di pola seperti Mukidi: asal promosi, asal iklan, tanpa strategi jelas.

Padahal kunci marketing bukan sekadar “promosi sebanyak-banyaknya”, tapi membangun hubungan dulu dengan calon pelanggan.

Bayangkan kamu baru kenalan sama seseorang, lalu dia langsung maksa jualan sesuatu ke kamu. Rasanya gimana?
Tentu aneh, nggak nyaman, dan kemungkinan besar kamu akan menolak.

Nah, itulah yang dilakukan Mukidi selama ini.

 

Strategi yang Lebih Ampuh

Kalau mau bisnisnya lebih terarah dan iklan nggak boncos, coba ikuti langkah-langkah berikut.

1. Fokus pada Satu Produk Dulu

Jangan loncat-loncat ke banyak bisnis sekaligus. Pilih satu produk yang menurutmu punya potensi besar, misalnya properti untuk hunian keluarga. Dengan fokus, kamu bisa belajar lebih dalam dan tahu cara terbaik menjualnya.

2. Kuasai Detail Produk

Catat semua keunggulan, kelebihan, dan poin penting dari produk tersebut. Kalau jual properti, misalnya: lokasi strategis, dekat sekolah, harga cicilan ringan, desain rumah nyaman, dll.

3. Bikin Konten Edukatif

Jangan langsung jualan, tapi edukasi dulu pasar. Misalnya:

  • Tips memilih rumah pertama untuk keluarga kecil.
  • Hal-hal penting sebelum beli rumah KPR.
  • Cara menata furniture agar rumah kecil terasa luas.
  • Tips menjaga rumah tetap sehat dan nyaman.

Konten bisa dalam bentuk artikel, video singkat, carousel Instagram, atau TikTok.

4. Paketkan Konten Jadi Gratisan

Bikin lebih menarik dengan menyusun konten tadi jadi ebook gratis atau video mini course. Misalnya: “7 Tips Memilih Rumah Nyaman untuk Keluarga Muda”.

5. Buat Halaman Penawaran Gratis

Di halaman itu, jelaskan bahwa orang bisa mendapatkan ebook/video tadi dengan cara sederhana: masukkan email atau nomor WhatsApp.

6. Pasang Iklan untuk Cari Leads

Nah, iklan jangan langsung jualan. Iklankan penawaran gratis tadi. Dengan begitu, biaya iklan akan lebih ringan, karena orang lebih tertarik sama “bonus gratisan” dibanding dipaksa beli.

7. Nurturing + Penawaran Produk

Setelah punya data leads (email/WhatsApp), barulah kamu rutin kirimkan konten edukasi, sekaligus sisipkan penawaran produk. Jadi calon pelanggan sudah merasa kenal, percaya, dan lebih siap membeli.

 

Kenapa Cara Ini Lebih Ampuh?

Dengan strategi ini, kamu tidak langsung maksa jualan. Kamu memberi dulu sebelum meminta.

Calon pelanggan merasa kamu peduli, karena kamu kasih ilmu gratis yang bermanfaat. Mereka jadi lebih percaya dan melihatmu sebagai orang yang bisa membantu, bukan sekadar pedagang.

Akhirnya, ketika waktunya jualan, peluang closing jauh lebih besar. Dan yang paling penting: iklanmu tidak boncos lagi, karena setiap rupiah yang keluar dipakai untuk membangun aset berupa database pelanggan.

 

Penutup: Belajar dari Mukidi

Kisah Mukidi adalah cermin buat banyak pebisnis pemula. Bukan produknya yang salah, tapi strateginya.

Kalau kamu masih asal promosi dan berharap langsung closing, kemungkinan besar akan bernasib sama: capek, ditolak, dan boncos.

Tapi kalau kamu mau belajar strategi marketing yang benar—fokus pada satu produk, kuasai ilmunya, edukasi calon pelanggan, lalu bangun hubungan dulu sebelum jualan—hasilnya akan jauh lebih manis.

Jadi, jangan jadi Mukidi yang selalu gagal karena tidak punya strategi. Jadilah versi lebih pintar dari Mukidi: tetap semangat, tapi juga punya arah yang jelas.

Karena di dunia bisnis, semangat saja tidak cukup. Strategi lah yang bikin kamu bertahan dan menang.

👉 Pertanyaan untuk kamu: Kalau sekarang disuruh pilih, produk apa yang paling ingin kamu fokuskan dan promosikan dengan strategi ini?

***

Mau belajar step by step Facebook Ads dari dasar sampai advanced bersama dengan 250+ internet marketer lainnya?

Saya rekomendasikan Anda belajar di Ecourse X >> LINK

“Testimoni pertama bla bla bla bla ini contoh testimoni kepuasan dari member lama atau review dari ekspert”  Nama dan profesi

“Testimoni kedua bla bla bla bla ini contoh testimoni kepuasan dari member lama atau review dari ekspert”  Nama dan profesi

“Testimoni ketiga bla bla bla bla ini contoh testimoni kepuasan dari member lama atau review dari ekspert”  Nama dan profesi

Itu adalah beberapa testimoni dari mereka yang udah join duluan dan mempraktekan panduannya atau review dari para expert seputar Ecourse X.

Masih banyak sekali testimoni dan kisah sukses lainnya yang bisa Anda lihat di halaman ini >> LINK

Copyright © 2026 Catatan Bisnis Amr Abdul Jabbar